CERPEN - Mencari Simbol Hidup - Bag 5

https://4.bp.blogspot.com/-3dejjUwSZgE/V8Ld7jD9HOI/AAAAAAAABCM/RW5C2M3LqHcnblpqdn2X7_f_tcA9E3hCQCLcB/s72-c/IMG_66624417309511.jpeg click to zoom
Ditambahkan 4:50:00 AM
Kategori Cerpen inspirasi
Harga Liburan & Ngaji Kaweruh “Kulo bidal krien Mak” aku berpamitan ke Ibuku. Hari ini aku pergi berlibur bersama sahabat magician. Mobil y...
Share
Hubungi Kami
BELI

Review CERPEN - Mencari Simbol Hidup - Bag 5

Liburan & Ngaji Kaweruh

“Kulo bidal krien Mak” aku berpamitan ke Ibuku. Hari ini aku pergi berlibur bersama sahabat magician. Mobil yang dibawa Key berwarna putih bertuliskan “grand Livina” ini membawa kami berempat. Sekitar 80 Kilometer dari kota kearah selatan menuju “Pulo Merah”. Wahana pantai yang bersih dan indah tempat yang hendak kami tuju. “Pulo Merah” ya, tempat yang pernah menjadi ajang surfing internasional ini menjadi tujuan kami hari ini.

Pulau yang terlihat berwarna merah saat matahari terbenam ini menjadi objek wisata yang mulai digemari wisata asing. Tak hanya wisatawan internasional tapi wisatawan lokal dari berbagai kota besar bahkan luar Jawa pengunjungnya.


Di samping kanan aku duduk ada seorang wanita paruh baya sedang bercakap-cakap dengan anak lelakinya yang berumur sekitar 5 tahun. Si Anak laki-laki tersebut seketika memandang ke langit yang tiba-tiba mulai gelap.
“mataharinya hilang” kata si Ibu.
“ndak, tutup” kata si Anak dengan lidah cadelnya.
“tertutup apa Nak?” tanya Ibu sambil memandang langit mengikuti si Anak.
“AWAN” jawab si Anak dengan tegas.

Percakapan diatas bagiku sangat luar biasa. Tanpa kusadari anak lelaki ini membawa pencerahan bagiku. Seperti matahari begitu juga Kebahagiaan, Anugerah, dan Kasih Sayang yang tak akan pernah hilang. Mereka hanya TERHALANG oleh Kemarahan, Kebencian, Iri Hati, Dengki, dan Dendam.

Bahkan ada yang bilang “satu menit MARAH, maka akan hilang satu jam KEBAHAGIAAN” itu adalah sebuah ungkapan yang nyata. Boleh jadi setiap orang pernah mengalaminya.

Dan Saya yakin CAHAYA ILAHI akan terus terpancar pada hambanya kapanpun dan dimanapun itu. Dan penghalang berupa AMARAH, KEBENCIAN, IRI HATI, DENGKI, dan DENDAM lah yang menjadi PENGHALANG kasih sayang dan kebahagian itu ada.

“Fan, kamu menangis ya?” kata Key. “ahh masak, kelilipen pasir aku” aku yang ngeles dan sebenarnya tak sadar meneteskan air mata saat termenung setelah mendengar percakapan ibu dan anak itu. Solah-olah melihat diriku yang tak jarang menyalahkan keadaan saat aku mengalami masalah.

Seorang Fani yang berprofesi sebagai seorang konselor dan trainer juga pernah mengalami yang menurutnya sebuah masalah. “aku kan masih manusia, bukan dewa ataupun malaikat” aku berbicara dengan diriku.

Key dan kedua sahabatku yang dari tadi menikmati air pantai. Berenang yang kadang-kadang melawan arus dan mengikuti arus. Sesekali mereka juga berlatih ‘kick moon’ teknik tendangan dan loncatan ala Parkour. Mereka yang berenang dan menikmati suasan pantai dengan melatih beberapa gerakan. Berbeda dengan aku, aku hanya duduk diam menikmati pemnadangan indah, dan sesekali melakukan meditasi menikmati keheningan dibalik keramaian. Terdengar suara yang tak tahu dari mana arahnya.

“saat kamu melihat pasir laut, kamu akan meyakini bahwa itu pasir laut. Lalu saat kamu melihat pasir laut kamu juga akan meyakini bahwa itu bukan pasir laut. Selanjutnya saat kamu melihat pasir laut, kamu akan meyakini bahwa itu adalah pasir laut”.

Hanya kalimat itu yang terdengar. Saat aku membuka mata tak ada orang disampingku. Saat aku menutup mata lagi karena ingin mendengar penjelasan kalimat itu, tak dapat pula aku dapatkan. Suara itu seoalah-olah lenyap bersama terpaan angin dan hempasan ombak. “apa maksudnya” aku bingung dengan makna kalimat itu.

Aku yang tak tenang dengan kalimat itu, lalu memutuskan ikut berenang bersama Key dan sahabat yang lainnya. Lama aku ikut berenang dengan mereka tak juga menemukan jawaban arti dari kalimat itu. Sampai aku lelah sendiri mencari jawaban itu.

~~~tamat~~~



Komentar